IBNU MULJAM SANG PEMBUNUH SAYYIINA ALI YANG HAFIDZ ALQURAN
Sang Pintu Ilmu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, suatu ketika didemo secara pribadi oleh seorang rakyatnya.
"Pada masa beliau bertiga itu," kata Ali, "yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”
Pada 17 Ramadan, tanggal mulia yang masyhur dikenal sebagai peristiwa
Nuzulul Qur'an, tanggal yang juga dikenang sebagai tonggak kemenangan
kaum muslimin dalam Perang Badar, adalah tanggal di mana Sayyidina Ali
Karramallahu Wajhah ditikam pada subuh menjelang shalat. (Riwayat lain
menulis 19 Ramadan).
Penikamnya orang kafir? Bukan. Dia adalah Abdurrahman ibn Muljam. JIDATNYA HITAM TANDA Sosok
yang menghabiskan waktu di siang hari dengan berpuasa, malam hari dengan
qiyamul lail, dan konon hafal al-Qur'an. Kawan Ibn Muljam
lainnya bertugas membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan
Sayyidina Amr bin Ash Radliyallahu 'anhuma.
Pada waktu mulia, subuh; pada hari yang paling mulia, Jum'at; pada bulan
yang mulia, Ramadan; seorang ekstremis fanatik mengutip firman mulia
pada saat melakukan tindakan terkutuk terhadap manusia mulia, Ali.
GENERASI IBNU MULJAM TUMBUH DI INDONESIA
Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk
membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif
yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan
untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan
Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij
modern yang militan namun miskin ilmu.
"Dulu, di zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman (radliyAllahu anhum)
kondisi negara stabil. Kini, di era engkau menjadi pemimpin, kondisinya
tidak stabil." Ada protes terselubung dalam statemen rakyat
ini. Sayyidina Ali tersenyum.
"Pada masa beliau bertiga itu," kata Ali, "yang dipimpin adalah orang-orang macam aku, sedangkan sekarang ini yang kupimpin adalah orang-orang macam kamu!!”
Beda zaman, beda tindakan. Beda era, beda pula reaksi atas sebuah kejadian. Di era kepemimpinan menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut, daerah kekuasaan Islam bertambah luas. Para sahabat Rasulullah juga banyak yang sudah bermigrasi ke kawasan lain.
Selain dikelilingi sahabatnya yang loyal, Sayyidina Ali juga dikerubuti
orang-orang aneh; sekelompok orang dengan jalan pikiran ekstrem. Mereka
bergabung dengan kubu Sayyidina Ali, lalu keluar dari barisan manakala
menantu Rasulullah itu memutuskan gencatan senjata dengan kubu Muawiyah
bin Abi Sufyan r.a.
Cinta kepada Sang Pintu Ilmu berubah menjadi benci. Mereka menyolidkan
diri menjadi sebuah gerakan oposisi ekstrem. Pernah, suatu waktu,
Abdullah ibn Abbas diperintah oleh Ali mengintai keseharian kelompok
yang memiliki semboyan La Hukma Illa Lillah itu. Putra Abbas bin
Abdul Muthalib r.a takjub dengan keseharian mereka: puasa di siang hari,
ibadah di malam hari. Toh, meski demikian, sikap mereka keras.
Ali, suami Fathimah az-Zahra, yang mendapatkan laporan Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, sontak menyahut mendengar semboyan La Hukma Illa Lillah. Kalimat benar yang dipakai untuk tujuan batil!, sahut Ali.
Jika kedua shahabat ini lolos, maka tidak dengan Sang Pintu Ilmu. Beliau
justru gugur di tangan pembunuh yang meneriakkan “Tidak ada hukum
kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai
Ali!” sembari menikam tubuh menantu Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Ketika ditangkap, Ibnu Muljam berteriak meronta sembari mengutip firman
Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada
hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).
GENERASI IBNU MULJAM TUMBUH DI INDONESIA
Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita
lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda
kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum
muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan
aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka. Merekalah yang pada
raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al
Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah
kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana
sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,
“Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang
selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak
panah dari busur.”
Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama
Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum
muslimin. Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid
dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu
agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al
Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain
untuk menghapalkannya.
‘Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan
permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke
Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk
Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,
“Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an
untuk mengajari penduduk Mesir, “ ‘Umar menjawab, “Saya mengirimkan
untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang
ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku
sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk
mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia...!.”
Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun
semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul
khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama
yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah
meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang
bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim
semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.
Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika
sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir
terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang
sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang
menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada
ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat
mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.
Post a Comment