KYAI MAIMOEN : ORANG NU YANG TIDAK MAU PANCASILA ORA PATE NU
Sosok yang satu ini memang luar biasa. Di usianya yang hampir
mendekati 90, ide dan pemikiranya masih menjadi rujukan para tokoh
bangsa, khususnya bagi warga Nahdliyin. Mulai dari persoalan poliik,
agama hingga masalah kebangsaan. Siapa lagi kalau bukan KH. Maimoen
Zubair.
Baru-baru ini, Dalam sebuah video pendek yang beredar di Sosial Media (sosmed) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang itu menyampaikan bahwa PBNU tidak bisa dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama (NU).
“Nahdlatul Ulama itu dari dulu ndak pernah diganti, tetap pusatnya namanya PBNU”, jelas Kiai Maimun.
Kiai sepuh yang akrab dipanggil Mbah Mun itu menegaskan agar warga Nahdhiyin menjaga empat pilar dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 yang disingakat menjadi PBNU.
“PBNU itu memperingatkan harus menjaga empat pilar, P = Pancasila, B=Bhineka Tunggal Ika, N = Negara Kesatuan Republik Indonesia dan U = Undang Undang Dasar 45”, papar Mbah Mun disamput tepuk tangan hadirin yang hadir.
Sehingga menurut Beliau kalau ada orang NU yang tidak mau Pancasila berarti ia tidak benar-benar NU.
“Ini yang harus kita ketahui, jadi kalau ada orang NU kok tidak mau Pancasila yo pancen ora pati NU (memang tidak begitu NU)”, Tegasnya dengan suara yang masih terang dan jelas.
Berikut videonya :
Nasionalisme KH. Maimun Zubair
Semangat dan jiwa nasionalisme yang tertanam pada sosok KH. Maimun Zubair sudah tidak diragukan lagi. Tidak hanya kiprahnya, di dalam berbagai kesempatan Kiai Kharismatik itu selalu mengingatkan tentang pentingnya menanamkan semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Bahkan tak jarang ia mencontohkannya dengan bentuk sikap nyata yang ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari.
Pasa satu kesempatan, saat lagu kebangsaan Indonesia Raya digemakan di dalam pembukaan Muktamar NU ke 33 Di Jombang beberapa waktu lalu, mbah Mun yang sejak awal dituntun menggunakan kursi roda, –dengan sisa tenaga yang ada– memaksa diri berdiri tegak untuk bersama-sama para muktamirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Alissa Wahid (putri Gus Dur) buru-buru mengabadikannya, lalu mengunggahnya di akun twitternya, @AlissaWahid.
“Mau nangis melihat Kiai Maimoen Zubair yang berkursiroda memaksa berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya. #MuktamarNU”
Usia beliau yang hampir mendekati 90 tahun sama sekali tidak melunturkan kecintaannya kepada Indonesia.
Begitulah nasionalisme beliau. Ulama panutan ini telah mengajarkan kepada kita tentang cara mencintai dan memelihara kedamaian tanah air Indonesia.
Ini berbanding terbalik dengan sebagian orang dari kelompok tertentu yang baru saja dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Tokoh-tokoh mereka tiba-tiba mengharamkan hormat kepada sang merah-putih dan berdiri saat lagu kebangsaan dinyanyikan; menyebut nasionalisme tidak ada dalilnya; ingin mengganti ideologi pancasila dengan aneka pembenaran dalil yang mereka bawa; lalu menyebut diri mereka sangat cinta agama namun tak pernah mau menghargai sang saka, pancasila, & Bhinneka Tunggal Ika;
Bagaimana dengan kita?
Semoga KH. Maimun Zubair dikaruniai Umur Panjang dan kesehatan. Amiin….
Baru-baru ini, Dalam sebuah video pendek yang beredar di Sosial Media (sosmed) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Sarang, Rembang itu menyampaikan bahwa PBNU tidak bisa dipisahkan dengan Nahdlatul Ulama (NU).
“Nahdlatul Ulama itu dari dulu ndak pernah diganti, tetap pusatnya namanya PBNU”, jelas Kiai Maimun.
Kiai sepuh yang akrab dipanggil Mbah Mun itu menegaskan agar warga Nahdhiyin menjaga empat pilar dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 yang disingakat menjadi PBNU.
“PBNU itu memperingatkan harus menjaga empat pilar, P = Pancasila, B=Bhineka Tunggal Ika, N = Negara Kesatuan Republik Indonesia dan U = Undang Undang Dasar 45”, papar Mbah Mun disamput tepuk tangan hadirin yang hadir.
Sehingga menurut Beliau kalau ada orang NU yang tidak mau Pancasila berarti ia tidak benar-benar NU.
“Ini yang harus kita ketahui, jadi kalau ada orang NU kok tidak mau Pancasila yo pancen ora pati NU (memang tidak begitu NU)”, Tegasnya dengan suara yang masih terang dan jelas.
Berikut videonya :
Nasionalisme KH. Maimun Zubair
Semangat dan jiwa nasionalisme yang tertanam pada sosok KH. Maimun Zubair sudah tidak diragukan lagi. Tidak hanya kiprahnya, di dalam berbagai kesempatan Kiai Kharismatik itu selalu mengingatkan tentang pentingnya menanamkan semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Bahkan tak jarang ia mencontohkannya dengan bentuk sikap nyata yang ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari.
Pasa satu kesempatan, saat lagu kebangsaan Indonesia Raya digemakan di dalam pembukaan Muktamar NU ke 33 Di Jombang beberapa waktu lalu, mbah Mun yang sejak awal dituntun menggunakan kursi roda, –dengan sisa tenaga yang ada– memaksa diri berdiri tegak untuk bersama-sama para muktamirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Alissa Wahid (putri Gus Dur) buru-buru mengabadikannya, lalu mengunggahnya di akun twitternya, @AlissaWahid.
“Mau nangis melihat Kiai Maimoen Zubair yang berkursiroda memaksa berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya. #MuktamarNU”
Usia beliau yang hampir mendekati 90 tahun sama sekali tidak melunturkan kecintaannya kepada Indonesia.
Begitulah nasionalisme beliau. Ulama panutan ini telah mengajarkan kepada kita tentang cara mencintai dan memelihara kedamaian tanah air Indonesia.
Ini berbanding terbalik dengan sebagian orang dari kelompok tertentu yang baru saja dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia. Tokoh-tokoh mereka tiba-tiba mengharamkan hormat kepada sang merah-putih dan berdiri saat lagu kebangsaan dinyanyikan; menyebut nasionalisme tidak ada dalilnya; ingin mengganti ideologi pancasila dengan aneka pembenaran dalil yang mereka bawa; lalu menyebut diri mereka sangat cinta agama namun tak pernah mau menghargai sang saka, pancasila, & Bhinneka Tunggal Ika;
Bagaimana dengan kita?
Semoga KH. Maimun Zubair dikaruniai Umur Panjang dan kesehatan. Amiin….
Post a Comment