“Dan sesungguhnya Kami merasakan
kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang
lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang
benar). Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah
diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada
orang-orang berdosa.” (QS. As-Sajdah; 32:21-22)
Pada dua ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan bahwa sebenarnya orang-orang kafir itu sewaktu masih hidup di dunia, mereka telah di azab oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan berbagai macam azab, baik yang nampak maupun yang hanya dapat dirasakan saja oleh mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan bahwa orang yang paling zalim di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala
ialah orang yang telah sampai kepadanya peringatan Allah, telah sampai
pula kepadanya ayat-ayat Al-Quran dan petunjuk Rasul, As-Sunnah,
kemudian mereka berpaling dari ajaran dan petunjuk itu karena angkuh dan
penyakit dengki yang ada di dalam hatinya.
Pada akhir ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan bahwa Dia akan menyiksa setiap orang yang berbuat dosa dan maksiat dengan siksa yang amat pedih.
Fenomena yang dialami Mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon (85)
-dikenal sebagai ‘Sang Jagal’ yang meninggal dunia Sabtu sore (11/1)
setelah kondisi kesehatanya semakin memburuk pascakoma hampir delapan
tahun- mungkin menempatkan dia sebagai penerima azab terpanjang di
dunia.
Sebuah berita diterima adanya duka mendalam menyelimuti zionis Yahudi
Israel, kabar duka tersebut datang dari rumah sakit soroka beer sheva
israel atas tewasnya Ariel Sharon mantan PM israel yang pernah membantai
ribuan warga Palestina dan pernah merangsek masuk ke Masjid Alaqsa
mubarak akibatnya pecah perlawanan intifadha kedua.
Ariel Sharon meregang nyawa setelah lebih dari 7 tahun membusuk dan
koma di rumah sakit (setengah mati), tegas dokter yang khusus merawat
Sharon: kami sudah melakukan tindakan medis yang terbaik buat sharon
tapi ternyata tidak bisa membuat Sharon sembuh, mohon maaf kami tidak
bisa berbuat apa2.
Sharon tewas 2 Agustus 2013. Warga Palestina menyebut Sharon adalah
pembantai . Di tahun 2000-2002 Sharon telah membunuh lebih dari 9000
warga Palestina saat perlawanan intifadha pertama, pernah mengacaukan
didalam masjid Al Aqsa beserta tentara Israel serta melakukan operasi
pembakaran masjid Al Aqsa.
Betapa tidak, semasa berkuasa, Ariel Sharon dikenal banyak melakukan
pembunuhan massal, terutama terhadap warga Palestina termasuk ribuan
korban tewas di kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Lebanon
pada 1982 oleh pasukan Zionis Israel dibawah pimpinan Sharon, sehingga
ia dijuluki sebagai Zionis “Sang Jagal”.
Ya, sebutan “Sang Jagal” bukan
isapan jempol semata, Ariel Sharon juga menjadi arsitek salah satu
pembantaian terbesar yang dilakukan tentara penjajah Israel (Israeli
Defense Forces -IDF) ‘Unit 101’ di Qibya, Tepi Barat pada 1953, membunuh
66 warga sipil tak bersenjata. Pasukan IDF ‘Unit 101’ yang dipimpin
oleh Ariel Sharon, bahkan meledakkan rumah-rumah dengan para penghuni
masih berada di dalamnya.
Dia mengulangi operasi militer yang sama di beberapa desa lainnya
termasuk pada Agustus 1953, sebagai komandan ‘Unit 101’, Sharon memimpin
serangan terhadap kamp pengungsi Al-Bureij, selatan Jalur Gaza,
menewaskan lebih dari 50 orang.
Laporan mencengangkan dikutip dari buku “The Veritas Handbook: A Guide to Understanding the Struggle for Palestinian Human Rights, 2010”,
di mana para pengamat PBB yang tiba dua jam setelah serangan itu
mengatakan: “Mayat-mayat penuh peluru di dekat pintu dan beberapa bekas
tembusan rentetan peluru terpampang di pintu rumah yang dihancurkan,
menunjukkan bahwa penduduk telah dipaksa untuk tetap berada di dalam,
hingga rumah mereka diledakkan dan reruntuhannya menimpa mereka.”
Para pengamat PBB lebih lanjut melaporkan bahwa “saksi mata
menggambarkan pengalaman mereka saat pembantaian itu sebagai ‘malam
horor’, di mana tentara penjajah Israel bergerak di sekitar desa
seketika meledakkan bangunan, menembak ke arah pintu dan jendela dengan
senjata otomatis, dan melemparkan granat tangan ke dalamnya.”
Kecaman internasional pun dikeluarkan atas pembantaian Qibya dan
menyerukan mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian itu dibawa ke
pengadilan. Namun, tidak ada tindakan disipliner yang diambil terhadap
tentara IDF yang terlibat dalam aksi pembantaian Qibya. Bahkan Ariel
Sharon kemudian menjadi menteri pertahanan dan akhirnya menjadi Perdana
Menteri Israel. Pantaslah “Sang Jagal”
Ariel Sharon pernah mengatakan “Israel menyeret orang lain ke
pengadilan, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menyeret orang-orang
Yahudi dan Negara Israel ke pengadilan.”— Ariel Sharon (2001). (diambil
dari beberapa kutipan para tokoh Zionis terkemuka di dalam buku The Veritas Handbook: A Guide to Understanding the Struggle for Palestinian Human Rights, 2010)
Jadi “Mesin Pembunuh” Sejak Remaja
Ariel Sharon (Bahasa Ibrani: אֲרִיאֵל שָׁרוֹן, juga dikenal dengan Arik) lahir di Kfar Malal, Mandat Britania atas Palestina, 26 Februari 1928.
Track record Sharon sebagai seorang militer yang mendapatkan
pekerjaan menjadi “mesin pembunuh” dilakukan sebelum kemerdekaan
entitas Zionis Israel. Berumur 14 tahun, ia bergabung menjadi anggota
organisasi teroris dari milisi Yahudi Haganah yang menjadi “Pasukan
Pertahanan Israel”. Secara terus-menerus melakukan teror dan pembunuhan
gelap terhadap orang Arab-Palestina untuk memaksa mereka meninggalkan
tanah dan tempat tinggalnya. Tindakan itu dilakukan para anggota teroris
Haganah sejak tahun 1920 sampai dengan sekarang.
Dari tahun 1920–1930, organisasi
Haganah di bawah pimpinan David Ben-Gurion saat itu melakukan teror
kekerasan dengan tugas yang semula hanya terbatas sebagai kekuatan
bersenjata untuk mempertahankan pemukiman imigran Yahudi, tetapi
kemudian berubah menjadi tugas penyerangan terhadap orang
Arab-Palestina. Haganah juga berfungsi bukan hanya sebagai instansi
militer, tetapi menugaskan dirinya sebagai “administrasi pemerintahan”
di permukiman ilegal kaum Yahudi.
Pasukan perang Israel pun (Israel Defence Forces – IDF)
selanjutnya dibentuk dengan para pemimpinnya pada umumnya berasal dari
tokoh-tokoh organisasi teroris seperti Haganah, Bahnach, Stern Gang,
Irgun (Tesfa’i Leummi Barter Yasra’il) dan Lehmi Herot Israel (LEHI).
Pada masa perang kemerdekaan entitas ‘Zionis’ Israel tahun 1948, di
usianya yang ke-20 tahun, ia telah menjadi seorang komandan infantri
Israel dalam Brigade Alexandroni, di mana pada waktu itu pasukan
penjajah Israel mengusir sekitar 700 ribu warga Palestina dari tanah
mereka, dalam apa yang disebut sebagai tindakan pembersihan etnis.
Peristiwa penting dialami Sharon, pada saat ia hendak membakar sebuah
ladang, tiba-tiba rentetan peluru pejuang Palestina menembus tubuhnya.
Luka itu hampir saja merenggut nyawanya kalau saja ia tak diselamatkan
rekannya. Pada tahun itu juga, ia melanjutkan studi di bidang hukum di
Universitas Ibrani di Al-Quds (Yerusalem). Pada 1953, ia membentuk
sekaligus memimpin unit komando khusus “Unit 101” yang bertugas
melakukan operasi-operasi khusus tingkat tinggi. Ia diangkat menjadi
komandan dari korps para-komando dan terlibat dalam perang memperebutkan
Sinai pada tahun 1956. Pada tahun 1957, ia meneruskan pendidikan
kemiliterannya di Camberley Staff College, Inggris.
Selama tahun 1958-1962, Pada Perang Enam Hari (1967) yang melibatkan
Israel melawan bangsa Arab, ia menjabat sebagai komandan sebuah divisi
tentara dengan pangkat brigadir jenderal. Kemudian, ia mengundurkan diri
dari dinas ketentaraan pada tahun 1972. Ketika Perang Yom Kippur pecah
pada tahun 1973, ia dipanggil untuk memimpin divisi tentara yang harus
menyeberangi Terusan Suez.
Kemudian, pada tahun 1972, di bawah Protokol Galilea, Ariel Sharon
“mengusir sekitar sepuluh ribu petani dan Arab Badui, membuldoser atau
menghancurkan rumah-rumah mereka, memaksa mereka mengungsi serta tinggal
di tenda-tenda, menghancurkan tanaman mereka dan menyita sumur-sumur
mereka” untuk mempersiapkan tanah bagi pendirian permukimna ilegal
Yahudi dan barak militer penjajah Zionis Israel.
Sharon dianggap sebagai seorang militer kaliber tinggi. Dia membangun
reputasi sebagai salah satu jenderal Israel yang dikenal paling
berpengalaman dan cerdas.
Sejumlah kejahatan dilakukan termasuk perannya sebagai dalang
berbagai operasi militer yang mengakibatkan banyak warga sipil Palestina
terbunuh. Sebagai contoh, selama invasi Israel di Lebanon 1982,
pembantaian di kamp pengungsi Sabra dan Shatila memamerkan seberapa
tajam dan efektif Sharon dalam mlekukan pembantaian warga Palestina.
Masih belum ada angka yang akurat untuk jumlah orang yang meninggal
dunia dalam pembantaian Sabra Shatila itu. Penyelidikan resmi Israel di
bawah Komisi Kahan menyimpulkan bahwa antara 700 dan 800 orang dibunuh.
Wartawan Robert Fisk, yang merupakan salah satu orang pertama di tempat
kejadian setelah pembantaian itu, menyimpulkan bahwa 1.700 orang
kehilangan nyawa mereka. Sementara itu, estimasi Bulan Sabit Merah
Palestina adalah lebih dari 2.000 jiwa melayang. Penelitian Amnon
Kapeliouk, seorang wartawan dan penulis asal Israel, menempatkan angka
antara 3.000 dan 3.500 orang meninggal.
Dua puluh tahun kemudian, pada April 2002, Sharon juga memerintahkan
pembunuhan di kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat yang diduduki. Menurut
Pusat Informasi Palestina Badil:”… Pada saat serangan militer berakhir
pada 11 April 2002, diperkirakan lebih dari 50 warga Palestina meninggal
dunia sekitar 10 persen dari kamp, termasuk ratusan tempat penampungan
pengungsi, telah benar-benar diratakan…”
Tidak ada media yang diizinkan masuk selama serangan penjajah Israel
tersebut. Hanya setelah dua pekan pembantaian itu, organisasi hak asasi
manusia lokal dan internasional, termasuk Amnesty International dan
Human Rights Watch, yang boleh diizinkan masuk Jenin. Mereka segera
menemukan bukti pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan dan hak
asasi manusia internasional, termasuk kejahatan perang. Dengan tekanan
internasional, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 1405, 19 April
2002, menyerukan penyelidikan internasional atas invasi militer itu.
Bahkan, kaum keluarga para korban pembantaian tersebut mengajukan
tuntutan di Pengadila Tertinggi Belgia dan menuduh bahwa Ariel Sharon
secara pribadi bertanggung jawab atas pembantaian-pembantaian warga
Palestina terutama operasi pembantaian Sabra dan Shatila serta
pembantaian Jenin, dengan menggunakan undang-undang yang pertama kali
digunakan terhadap mereka yang terlibat dalam Genosida Rwanda.
Pengadilan Tertinggi Belgia memutuskan pada 12 Februari 2003 bahwa
Sharon (dan mereka yang terlibat lainnya, seperti Jenderal Yaron dari
Israel) dapat dikenai tuntutan di bawah tuduhan itu.
Namun, pada 24 September 2003, Pengadilan Tertinggi Belgia menolak
pengaduan kejahatan perang terhadap Ariel Sharon, dan menyatakan bahwa
pengaduan itu tidak mempunyai basis hukum untuk dijadikan tuntutan. Elie
Hobeika, komandan Falangis pada waktu pembantaian itu yang tidak pernah
diadili, dibunuh dengan sebuah bom mobil di Beirut pada 24 Januari
2002, saat ia tengah bersiap-siap untuk memberikan kesaksian dalam
sebuah peradilan Sharon.
Sikap angkuh dan tidak berperi-kemanusiaan para pemimpin Zionis
Israel juga slah satunya ditunjukan oleh Ariel Sharon dengan berbagai
pernyataannya yang rasis.
“Tiap orang harus bergerak, berlari, dan merebut puncak
bukit sebanyak mungkin untuk memperluas permukiman (Yahudi), karena apa
yang kita rebut hari ini akan menjadi milik kita untuk selama-lamanya
…Apa yang tidak kita rebut akan menjadi milik mereka.” (Pidato Ariel Sharon, laporan AFP pada tanggal 15 Nopember 1998) Karir Politiknya Wariskan Apartheid
Adapun karir politiknya, dalam hubungan internasional Sharon
mendorong maju penarikan sepihak pemukim Israel dari Jalur Gaza pada
tahun 2004-2005, yang dipandang sebagai pengorbanan besar dan keputusan
yang sulit bagi sosok seorang Perdana Menteri Israel untuk membuat
semacam “tanda kemauan baik untuk perdamaian”. Ironisnya, sejak
penarikan, penduduk Jalur Gaza telah membayar harga mahal di bawah
blokade penjajah Israel yang diberlakukan di Jalur Gaza yang telah
mencapai kondisi semakin memburuk pada tahun ini. Bahkan, koma Sharon
telah Bersamaan dengan ancaman warga Palestina di Jalur Gaza. Sharon
mungkin telah dalam keadaan mati suri, tetapi penduduk di Gaza harus
terus melawan blokade ilegal.
Kontribusi lain yang patut dicatat dari Sharon adalah persetujuan dan
pengelolaan Tembok Apartheid. Dimulai pada tahun 2001 sekarang berjalan
di Tepi Barat, memisahkan kota-kota dan rumah-rumah tetangga warga
Palestina dari satu sama lain, menyediakan sumber daya di satu sisi bagi
pemukim ilegal Yahudi dan hukuman kolektif di sisi lain bagi penduduk
Palestina.
Ariel Sharon menjabat sebagai perdana menteri Israel dari 7 Maret 2001 hingga 14 April 2006.
Kekuasaannya sebagai perdana menteri kemudian digantikan oleh Perdana
Menteri (sementara) Ehud Olmert karena ia terkena serangan stroke pada
Januari 2006. Ia mengalami koma dalam waktu yang lama, sehingga tidak
memungkinkan untuk dapat kembali menjalankan tugas-tugas sebagai
pemimpin pemerintahan.
Ia tampil sebagai pemimpin politik serta militer berkebangsaan
Israel. Sharon juga pernah menjadi pemimpin Likud, partai terbesar dalam
koalisi pemerintah dalam parlemen Israel, Knesset, hingga ia
mengundurkan diri dari partai tersebut pada 21 November 2005. Ia
kemudian membentuk partai baru bernama Kadima.
Perdana Menteri Israel ke-11 itu pun melakukan penodaan disertai
dengan lebih dari 1.000 pasukan dan polisi paramiliter Israel melakukan
tur provokatif di sekitar kompleks Al-Aqsha, terdapat Masjid Al-Aqsha
(Al-Qibly) dan Masjid Kubah Batu (Qubbatus Shakhrah), kiblat pertama umat Islam.
Penodaan Sharon di Al-Aqsha menjadi pemicu Intifadah Kedua
(kebangkitan), beberapa hari kemudian, bentrokan penduduk Palestina
dengan senjata seadanya, bongkahan batu, melawan pasukan perang Israel
bersenjata lengkap, tak terelakan. Terjadinya pembunuhan anak Palestina
usia 12 tahun Mohamad Al-Durah saat ayahnya mencoba untuk melindunginya
dari tentara Israel yang bertekad untuk membunuh anak itu. Al-Durah,
yang meninggal dalam pelukan ayahnya, menjadi lambang dari Intifadah
Kedua, disebut Intifadah Al-Aqsha. Intifahadah Al-Aqsha dari tahun 2000
sampai 2005 itu menjadi debut berdarah pada milenium baru di Wilayah
Palestina yang terjajah. Korban tewas diperkirakan mencapai 3.000 orang
Palestina dan 1.000 orang warga Israel; sementara itu, Sharon bersikeras
bahwa semua yang dia inginkan adalah jalan damai di ‘Kuil Bukit’
menurut mitos Yahudi itu.
Akhirnya, Sharon memiliki catatan menarik suara menentang atau
abstain dari inisiatif diplomatik untuk perdamaian di wilayah tersebut,
meninggalkan pengaruh yang kecil untuk menunjukkan bahwa Sharon adalah
orang yang cinta damai. Pada tahun 1979, saat memulai pemerintahannya,
ia memilih menentang perjanjian damai dengan Mesir dan pada tahun 1994
ia abstain dari pemungutan suara untuk perjanjian damai dengan Yordania.
Dia juga memilih menentang menarik pasukan Israel dari Lebanon Selatan
pada tahun 1985. Selama konferensi perdamaian Madrid pada tahun 1991, ia
menentang partisipasi Israel atas dasar bahwa konferensi itu tidak
layak. Dia melakukan hal yang sama dengan perjanjian Oslo pada tahun
1993, menyuarakan penentangan di Parlemen Israel Knesset.
Koma Selama Delapan Tahun
Ariel
Sharon terbaring tak berdaya koma hampir delapan tahun hingga akhirnya
meninggal dunia 11 Januari 2011. (Foto:DessertPeace)Dua
hari setelah Sharon terkena stroke berat sehingga otaknya dibanjiri
darah, berbagai media internasional mengabarkan bahwa ia sudah mati,
“ya” Mati. Hal itu wajar saja, karena setelah dinyatakan stabil pada 5
Januari 2006 oleh tim dokter di Rumah Sakit Haddasah, keesokan harinya
Sharon dimasukkan lagi ke ruang operasi.
Bahkan wakilnya, Ehud Olmert, telah ditunjuk sebagai pejabat
sementara perdana menteri menggantikan tugas yang diemban Sharon. Pada
hari keenam, dokter berupaya membangunkannya dari keadaan tidak sadar,
dengan cara mengurangi dosis obat anastesi. Ia pun kemudian bisa
bernapas sendiri dengan bantuan respirator dan sedikit memberikan respon
terhadap stimulus rasa sakit di lengan dan kakinya. Tetapi, Sharon yang
sudah berpindah rumah sakit tidak juga bangun, meskipun keluarga sudah
memperdengarkan alunan musik klasik karya komposer Mozart kesukaannya
–seperti yang disarankan oleh dokter-. Ia tidak pernah membuka matanya,
meskipun hasil tes CT scan menunjukkan otaknya tidak lagi mengeluarkan
darah.
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Sharon tidak lagi
dikabarkan menderita pendarahan pada otaknya. Hanya saja, berbagai
infeksi menyerang organ-organ tubuhnya yang lain secara bergantian. Dari
otak, infeksi pindah ke paru-paru, ke ginjal, ke dalam darah, begitu
seterusnya. Jantungnya yang diketahui bocor sejak sebelum koma, ikut
memperburuk keadaan.
Pada September 2008, dalam sebuah wawancara yang termasuk langka,
Profesor Zeev Rothstein yang merawat Sharon menceritakan keadaan
pasiennya kepada Radio Angkatan Bersenjata Israel: “Dia bisa
menggerakkan matanya, atau satu jari atau beberapa jari… Dia dapat
bereaksi terhadap rasa sakit, terhadap suara anggota keluarga yang
didengarnya. Reaksi-reaksi ini menunjukkan ia tidak sepenuhnya tidak
sadar,“ jelas Rothstein. “Seorang pasien yang terbaring di ranjang rumah
sakit begitu lama, tidak akan pernah terlihat sama seperti saat ia
sadar dan bisa berlari. Jadi, ia terlihat sangat berbeda,” kata
Rochstein lagi. Sejak itu, tim dokter yang merawatnya hanya menyampaikan
dua kabar tentang Sharon. Yaitu, kondisinya memburuk karena ada
gangguan pada organnya atau stabil, tapi tetap dalam keadaan koma.
Pada tahun 2010, keluarga Sharon memulangkan kembali Sharon ke
kediaman di sebuah peternakan miliknya di Negev, bagian selatan wilayah
Palestina yang dijajah Israel. Tetapi, akhirnya dia kembali menjalani
perawatan di pusat medis Sheba di mana dia dirawat sampai akhir
hayatnya.
Kemudian pada September 2013 dia telah menjalani prosedur pembedahan di perut sementara kondisinya masih dalam keadaan koma.
Sharon menjalani operasi di pusat medis Sheba dekat ibukota wilayah
Palestina yang dijajah Israel sejak 1948 (Tel Aviv), untuk meningkatkan
kinerja perangkat makan pada pencernaannya, di mana tabung pengisi
terhubung pada sistem pencernaannya.
Melalui tabung itu, Sharon menerima cairan, mengingat ia dalam
pemberian obat penenang terus menerus karena tidak bisa menelan. Dia
kemudian dipindahkan ke unit perawatan intensif.
Pada 3 Januari 2014, kondisi Sharon semakin kritis dan akhirnya meregang nyawa pada 11 Januari 2014.
Track record-nya menunjukkan, pemimpin seperti Sharon
memperkuat ketidakadilan dan penindasan demi kenegaraan. Mereka tidak
melakukan tindakan ini saja, mereka adalah bagian dari suatu alat yang
memaksakan normalisasi dinamika kekuasaan berdasarkan militerisasi,
kolonisasi dan apartheid, dan mengharapkan dunia untuk ikut mengikuti
atau tetap diam tentang hal itu.
Dan kita harus ingat, Sharon sudah mati tapi apartheid dan penjajahan Zionis Israel belum mati.
Post a Comment