MEREKA INGINKAN NU HANCUR TARGET 2020
Maka, pada tanggal 31 Januari 1926, NU berdiri sebagai organisasi keislaman yang meneruskan perjuangan dakwah wali songo yaitu Islam Ahlussunnah Wal Jamaah. Islam yang berorientasi kepada akidah dan tasawuf, fiqih serta adat.
Tapi, sekarang NU lagi diserang habis-habisan, figur utama yang diserang adalah ketua umum PBNU KH. Said Agil Siradj. Hal ini diharapkan agar NU terpecah belah dan kelompok radikal mampu menguasai Indonesia. Dengan adanya NU Garis Lurus (NU GL), yang karena sakit hati salah satu tokohnya gagal menjadi ketum PBNU, mulai menyerang KH. Said Agil Siradj. Dari sinilah, kelompok-kelompok radikal yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia mulai menyerang NU.
NU mulai di vonis bukan lagi NU KH. Hasyim Asyari, NU dimasuki liberal dan Syiah, NU telah rusak, ketum PBNU telah murtad dan tuduhan lainnya. Mengapa mereka menyerang mati-matian? Karena NU menjadi batu sandungan ambisi mereka untuk menjadikan Indonesia negara Islam versi mereka. NU setia kepada Pancasila dan UUD sebagai ideologi negara, NU menolak semua slogan-slogan Jihad dan negara Islam di Indonesia, karena bagi NU, Pancasila dan UUD sudah final tidak boleh diganti atau di otak-atik.
Kelompok-kelompok yang menyerang NU, hampir semua kelompok yang bertujuan sama, yaitu sama-sama ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Kelompok yang menyerang NU, ada yang jelas-jelas mendukung teroris dalam melakukan aksi bom di Indonesia, dan ada juga kelompok yang sikapnya abu-abu terhadap kelompok radikal seperti ISIS dan Al-Qaedah.
NU yang mendirikan bangsa ini. Pancasila adalah mujmal (kesepakatan) anak bangsa apapun agamanya, bahkan, salah satu anggota panitia sembilan yang merumuskan Pancasila adalah KH. Wahid Hasyim, cucu dari pendiri NU KH. Hasyim Asyari. Kenapa NU harus repot-repot mempertahankan Pancasila? Karena NU merasakan bagaimana berjuang untuk kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. NU banyak berjuang melawan penjajah, melawan PKI, melawan gerakan NII (negara Islam Indonesia), dan melawan pihak sekutu bersama Bung Tomo di Surabaya, jadi NU tahu betul bagaimana tersiksanya kondisi perang, sehingga ketika ada hukum yang mampu membuat damai, itu harus dipertahankan, dalam konteks ini adalah Pancasila dan UUD 45.
Konsep keberagamaan NU terhadap Non Muslim ialah, bahwa Non Muslim sama statusnya dengan umat Islam di Indonesia. Indonesia bukan negara Islam, sehingga Islam harus diatas non Muslim. Maka NU bisa bergaul dengan siapa saja. Dalam konsep bernegara di Indonesia tidak ada istilah namanya Kafir Harbi dan Kafir Zimmi, karena negara kita menganggap semua agama, ras, suku itu sama dimata negara. Ini yang membuat kelompok-kelompok intoleran tidak senang. Mereka mau, Islam diatas orang non Muslim, sehingga orang Non Muslim harus dijadikan warga kelas dua.
NU bukanya anti terhadap syariat Islam dan konsep jihad. Bagi NU, Indonesia aman dan damai dengan Pancasila itu sudah termasuk syariat Islam. Jihad bagi NU adalah, bagaimana orang miskin bisa mendapatkan kehidupan yang layak, korupsi tidak merajalela, umat Islam banyak yang bisa ngaji, itu Jihad NU. Indonesia sudah merdeka, tidak ada lagi Jihad senjata, seandainya Indonesia diserang sudah ada polisi dan TNI yang siap menjaga keamanan Indonesia, NU juga sudah menyiapkan pasukan Banser jika Indonesia diserang.
NU mengetahui rencana busuk dari kelompok yang ingin menghancurkan Indonesia dengan slogan jihad dan syariat Islam, mereka ingin Indonesia dikuasai oleh kelompok mereka. Sekarang rata-rata yang menyerang NU adalah kelompok yang sama-sama mengumandangkan slogan jihad dan syariat Islam versi mereka. Seandainya mereka mampu menguasai Indonesia apakah mereka akan bersatu? Tidak. Slogan mereka memang sama, tapi pemahaman mereka berbeda. Bisa kita lihat dari sejarah, mayoritas Muslim di India ingin memisahkan diri dari India dan membuat negara sendiri. Akhirnya, mereka berhasil mendirikan negara Pakistan dengan simbol bendera bulan bintang dengan warna hijau dan putih. Apakah mereka bersatu? Tidak. Mereka terpecah ke dalam beberapa kelompok yang akhirnya terbentuklah negara Islam Bangladesh. Setelah Pakistan berdiri dan Bangladesh berdiri, apakah mereka bersatu? Tidak. Di Pakistan sendiri ada pasukan Taliban yang ingin menguasai Pakistan, karena mereka anggap, pemerintah Pakistan kurang islami.
Begitu juga dengan Suriah, dahulu kelompok Jihad semua bersatu menyerang Basar Asad. Ketika mereka menguasai sebagian wilayah Suriah, apakah mereka bersatu? Tidak. Mereka saling perang, saling bunuh, saling penggal. Yang terasa ialah bagaimana Abu Bakar Al-Baghdadi keluar dari Al-Qaedah dan membentuk ISIS, sehingga ISIS harus berhadapan dengan sayap kanan Al-Qaedah yaitu Jabhah Al-Nusra di Suriah.
NU tahu ini, mereka hanya ingin mendirikan negara Islam versi mereka di Indonesia. Sehingga NU adalah batu sandungan mereka, NU dengan tegas menolak apapun yang merusak Pancasila dan UUD. Sehingga, bagaimana caranya agar NU bubar, minimal NU terpecah ke dalam beberapa kelompok dan perang saudara. Tapi meskipun begitu, NU tetap solid. Jamiyah NU tetap bersatu, NU seakan akan pecah hanya buatan media yang kontra terhadap NU.
Target utamanya bukanlah Syiah yang sebenarnya, tetapi adalah NU keseluruhannya. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.
Tak perlu menggunakan kecerdasan Master Strategi Ngisrael segala jika hanya untuk membaca alur makar mereka.
Pertamakali mereka mencuatkan statemen; “Sufi itu sesat, identik dengan Syiah dan Syiah bukan Islam.” Kita tahu di NU terdapat pelindung para pelaku tarekat yang pada reprentasinya adalah tasawuf, di bawah naungan JATMAN. Terakhir racun ideologi mereka ditambah dosisnya dengan perkataan mereka; “Aswaja ahli bid’ah pembuat ajaran baru yang bukan dari Islam yang sesungguhnya.” Perkataan ini akan bersayap bahwa Aswaja atau NU keluar dari Islam dan halal darahnya.
Jika Nahdliyyin sepakat bahwa Syiah adalah ajaran yang menyimpang dari ajaran yang mereka terima selama ini, tidak berarti mereka harus memusuhi Syiah dengan cara melempar kotoran kepadanya. Dan andai mereka bertoleransi dengan perbedaan itu, tak perlu juga dengan cara bertasyayyu’ sehingga seakan-akan NU dan Syiah adalah sama. Kita telah terajari sekian ratus tahun akan hak utama dan pertama dalam masalah keyakinan. Untuk itu tak perlu Nahdliyyin membenci Syiah sampai menggelapkan pandangan, tak perlu juga membela-bela mereka dengan membabi-buta.
Wahai saudaraku, belajarlah dengan berbagai kejadian di Arab sana, kalian adalah orang-orang yang terlahir dari rahim para ibu yang bijaksana, bacalah:
“Pada 2009, Qatar mengajukan proposal agar Assad melegalkan jalur pipa gas alamnya melintasi Suriah dan Turki untuk menuju Eropa. Bashar Assad menolak proposal ini. Dan pada 2011, ia justru menjalin kerjasama dengan Irak dan Iran untuk membangun jalur pipa ke Timur. Qatar, Saudi dan Turki adalah pihak yang paling sakit hati dan dirugikan oleh keputusan ini. Khayalan mereka untuk mendapat pemasukan milyaran dollar dari ekspor migas buyar seketika. Apa kalian terkejut jika hari ini Saudi, Qatar dan Turki menjadi negara-negara yang paling getol mensponsori dan mempersenjatai para teroris yang hendak menggulingkan Assad?” (Oleh: Kyai Zainal Ma’arif)
NU Target Utama Takfiri
Syiah sesat, NU sesat, iseng-iseng di Google saya ketik ‘NU sesat’, ada 538.000 tulisan. dan kata kunci ‘Syiah sesat’ ada 544.000 tulisan. Menarik kan? Ternyata hampir sama jumlah kata kunci ‘Syiah sesat’ dan ‘NU sesat’, tuh. Siapakah dalangnya? Kenapa tak hanya Syiah, tapi juga NU juga secara masif (tapi kurang disadari?) disesatkan juga?
Siapa sih sebenarnya target utama penyesatan, pembid’ahan dan gerakan masif takfirisme yang merajalela sekarang ini? Bukan Ahmadiyah, bukan pula Syiah. Tapi tak lain tak bukan adalah NU. Ahmadiyah, kemudian Syiah itu di Indonesia kan secuil, seiprit. Di Indonesia ini tak ada untungnya juga nyerang Syiah sebenarnya. Itu cuman target sekunder saja. Ahmadiyah dan Syiah hanyalah batu loncatan untuk menyerang target utama: NU.
Kenapa menyerang NU? Karena NU-lah (bersama Muhammadiyah) yang menjadi benteng penjaga bangsa ini sejak, bahkan sebelum, kemerdekaan Indonesia. NU hancur, hancur pulalah bangsa ini. Seperti Libya, seperti Suriah, seperti Irak. Lihatlah, sekarang kelompok takfiri ini sudah tak malu-malu lagi menyerang, membid’ah-bid’ahkan dan bahkan menyesatkan amaliah NU seperti tahlil, maulid, shalawat, ziarah, dll itu kan? Bahkan dalam tubuh NU sendiri pun gerakan anti NU (yang wasath, yang moderat dan toleran) mulai bermunculan.
Ketika menyerang Ahmadiyah, mereka mulus-mulus saja, karena Ahmadiyah memang tak punya doktrin ‘melawan’. Tapi ketika target lanjutannya adalah Syiah, di sinilah kelompok takfiri ini kesandung dan nyonyor, karena Syiah bukanlah Ahmadiyah. Syiah mewarisi semangat juang al-Husain. Syiah memiliki Asyura dan Karbala. Syiah adalah orang yang dibesarkan dengan doktrin menjadi petarung dan pejuang, yang tak akan diam dan siap bangkit melawan.
Secara kultural, Syiah dan NU di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat. “NU adalah Syiah minus Imamah, Syiah adalah NU plus Imamah”, kata Gus Dur. Terlalu nekat kalau langsung menyerang NU, karena itulah Syiah dijadikan batu loncatan. Karena itu bisa dimengerti bahwa NU tak akan hancur kalau Syiah tidak dihancurkan lebih dulu. Syiah-pun tak akan bisa dihancurkan, selama NU tidak dikacaukan terlebih dahulu.
Karena itu, kelompok takfiri ini (bisa di Sunni-Syiah-Wahhabi), tak akan pernah bisa berhasil merobohkan NU selama mereka tak berhasil menstigma Syiah sebagai sesat, kafir, dan bukan Islam. Karena dari situlah mereka mendapat pintu masuk untuk menyerang NU, yaitu dari pintu ajaran, amaliah, dan kultur Syiah yang sama dengan NU (shalawat, syafaat, maulid, haul, ziarah, tahlil, etc). Jangan heran, fitnah pada Syiah begitu massif dan sistematis. Tak hanya dari luar Syiah, bahkan dari dalam Syiah sendiri pun disusupi antek-antek takfiri pemuja Yasir al-Londoni dan Tawhidi al-Australiani itu. (muslimmedianews.com)
Post a Comment