Ribuan Warga China Gabung ISIS
Sebanyak 5.000-an warga etnis Uighur China, dari daerah bergejolak
Xinjiang, sudah bergabung dengan sejumlah kelompok oposisi bersenjata di
Suriah. Hal itu dikatakan duta besar Suriah untuk China, Imad
Moustapha, Senin.
Suriah
sendiri kini tengah mencoba untuk menarik investasi dari China. Dalam
beberapa hari ini sekira 30 pengusaha Suriah bertemu dengan 100
perwakilan China di Beijing.
Pemerintah China juga mengaku
khawatir terhadap sebagian warga Uighur, sebuah kelompok etnis Muslim
berbahasa Turki, yang terbang ke Suriah dan Irak secara ilegal melalui
Asia Tenggara dan Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.
Kelompok
bersenjata ISIS pernah mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan
terhadap seorang warga China pada 2015 untuk membalas dendam perlakuan
diskriminatif pemerintah Beijing terhadap Uighur, demikian laporan
Reuters.
Ratusan orang telah tewas di Xinjiang
dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar korban tewas akibat
kerusuhan antara Muslim Uighur dengan kelompok etnis mayoritas Han.
Pemerintah
China mengatakan bahwa kekerasan tersebut disebabkan oleh sebuah
kelompok militan yang ingin mendirikan negara merdeka bernama Turkistan
Timur.
Duta besar Moustapha mengatakan bahwa
sebagian besar warga Uighur di Suriah bertempur membawa nama kelompok
sendiri demi memperjuangkan kepentingan mereka.
"Kami
memperkirakan ada sekitar 4.000 sampai dengan 5.000 warga Uighur. China
dan negara lain seharusnya mulai memberi perhatian serius," katanya.
Pemerintah Beijing sendiri hingga kini belum pernah mengungkapkan berapa banyak etnis Uighur yang bertempur di Timur Tengah.
Sementara
itu, penyataan duta besar Moustapha sulit diverifikasi secara
independen karena kawasan perang Suriah tertutup untuk media.
Namun,
sejumlah kelompok pembela hak asasi manusia (HAM) dan tokoh Uighur di
pengasingan mengatakan bahwa mereka terbang ke Turki hanya untuk
melarikan diri dari represi Pemerintah China.
Moustapha
mengatakan bahwa tidak seperti negara-negara Barat yang mendukung
beberapa kelompok yang mereka anggap sebagai oposisi moderat, China
tidak pernah membedakan kelompok gerilyawan bersenjata.
"Mereka
mengerti tabiat sebenarnya dari doktrin semua kelompok radikal ini.
Kami saling bertukar informasi mengenai para teroris ini," katanya.
Sebelumnya,
Presiden Suriah Bashar al-Assad sempat memuji "kerja sama krusial"
antara intelejen Suriah dan China untuk menumpas gerilyawan Uighur.
Post a Comment