KETIKA ALLAH MENJADIKAN SEORANG HAMBA SEBAGAI WALI



Ketika Allah akan menjadikan seorang hamba menjadi kekasih/wali-Nya, maka dibukakan baginya Pintu Dzikir. Apabila dia merasa nikmat dengan dzikirnya, maka akan dibukakan oleh Allah Pintu Qurbah (dekat kepada Allah) kemudian dinaikkan lagi kepada Majelis 'Unsi (tempat yang membuatnya merasa nyaman dan akrab dengan Allah), kemudian dia didudukkan di atas Kursi Tauhid. Seterusnya dibukalah semua hijabnya, kemudian dimasukkan oleh Allah kedalam Darulfardaniyah (tempat dimana tidak ada temannya seorangpun didalamnya kecuali dirinya sendiri), setelah itu dibukakan oleh Allah baginya Hijabul Jalal wa Udmah (hijab yang menutupi kemuliaan dan keagungan Allah) dan dimasukkan dia kedalamnya. Kemudian oleh Allah dia dijadikan Kekasih-Nya/Waliyullah.
Simak dan renungkan tulisan dibawah ini :
1. Apa kiranya perasaan Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq saat Nabiï·º bersabda :
“Andai kuambil kekasih di antara insan, pasti kujadikan Abu Bakar sebagai Khalilku.”
2. Apa kiranya perasaan Sayyidina ‘Umar, saat dia berpamit ‘umrah & Nabiï·º bersabda padanya :
“Jangan lupakan kami dalam do’amu duhai saudara tersayang.”
3. Apa kiranya perasaan Sayyidina ‘Utsman saat membekali pasukan Tabuk & Nabiï·º bersabda :
“Tiada yg membahayakan ‘Utsman apapun setelah ia lakukan ini.”
4. Apa kiranya perasaan Sayyidina ‘Ali kala Nabiï·º bersabda :
“Bahwasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku.”
5. Apa kiranya perasaan Sayyidina Thalhah saat Nabiï·º bersabda :
“Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah.”
6. Apa kiranya perasaan Sayyidina Az-Zubair saat RasuluLlahï·º bersabda :
“Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al ‘Awwam.”
7. Apa kiranya perasaan Sayyidina Abu ‘Ubaidah saat Nabiï·º bersabda :
“Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah.”
8. Apa kiranya perasaan Sayyidina ‘Abdurrahman ibn ‘Auf saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiï·º kepada Sayyidina Khalid ibn Al Walid :
“Jangan cela sahabatku. Demi ALLAH andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud, hal itu takkan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya.”
9. Apa kiranya perasaan Sayyidina Mu’adz ibn Jabal, di saat RasuluLlahï·º bersabda padanya :
“Wahai Mu’adz, demi ALLAH, aku benar-benar mencintaimu.”
10. Apa kiranya perasaan Sayyidina Ibn ‘Abbas, saat Nabiï·º merengkuh & mencium kepalanya lalu berdo’a :
“Ya ALLAH faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya.”
11. Apa kiranya perasaan Sayyidina Ubay ibn Ka’b, saat Nabiï·º berkata padanya :
“ALLAH memerintahkanku tuk membacakan Surat Al-Bayyinah ini kepadamu.”
Hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya :
“Ya Rasulallah, benarkah ALLAH menyebut namaku kepadamu?”
Dan Nabiï·º menjawab :
“Benar.”
12. Apa kiranya perasaan Sayyidina Abu Musa Al Asy’ari, di saat Nabiï·º bersabda :
“Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Qur’an-mu.”
13. Apa kiranya perasaan Sayyidatuna ‘Aisyah, saat Nabiï·º menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya Sayyidina ‘Amr :
“Siapakan yang paling engkau cintai Ya Rasulallah?”
14. Apa kiranya perasaan Sayyidina Ibn Mas’ud, kala betis kecilnya ditertawakan.
Maka Nabiï·º bersabda :
“Betis itu di sisi ALLAH lebih berat dari Uhud.”
15. Apa kiranya perasaan Sayyidina ‘Ukasyah, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab & Nabiï·º berkata :
“Engkau termasuk di antara mereka.”
16. Apa kiranya perasaan Sayyidina Bilal ibn Rabah, saat Nabiï·º bersabda :
“Ceritakan padaku hai Bilal, amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?”
Lalu dia menjawab dengan tersipu :
“Menjaga wudhu’ & dua raka’at syukur atas wudhu.”
17. Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiï·º bersabda :
“Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar.
Ya ALLAH rahmatilah Anshar & anak-cucu kaum Anshar.”
Apa kiranya perasaan para sahabat, yang mereka berjumpa Nabiï·º pada petang & pagi, berjalan mengiringi beliau, memperoleh senyum & do’anya?
Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiï·º & para sahabatnya?
“Aku rindu… Aku rindu….”
Kata Rasulullahï·º ketika sedang duduk bersama para sahabat.
Dan sahabatpun bertanya :
“Kepada siapa engkau rindu Ya Rasulallah?”
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
“Bukankah kami ini saudara-saudaramu, Ya Rasulallah?”
“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
“Siapa mereka Ya Rasulallah, yang engkau panggil mereka dengan sebutan saudaramu dan engkau rindukan itu?”
Rasulallahï·º menjawab :
“Mereka adalah ummatku kelak, yang belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tapi mereka merindukanku, mereka melanjutkan perjuanganku, dan tak jarang mereka meneteskan air mata karena menahan rindu padaku.
Aku rindu pada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka.”
Adakah Nabiï·º kan bersabda, “Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu?”
“Kaliankah orangnya, yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa, yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?”
Ya Sayyidi Ya Rasulallah…
Inilah kami…
Yang KATANYA rindu padahal hanya SEDIKIT membaca shalawat dengan lidah kelu..
Yang KATANYA rindu tapi perut kami senantiasa kenyang, bahkan dari yg harom..
Yang KATANYA rindu padahal selalu mengumbar syahwat, suka melihat yg harom..
Yang KATANYA rindu tapi suka su’dzon..
Yang KATANYA rindu padahal gemar ghibah..
Yang KATANYA rindu tetapi kikir untuk sedekah..
Yang KATANYA rindu padahal tak bertanggung jawab mendidik keluarga..
Yang KATANYA rindu tetapi suka berkata kotor..
Yang KATANYA rindu padahal hati kami selalu lalai.
Yang KATANYA rindu tapi durhaka kepada kedua orang kami..
Kadang kami merasa lelah merawat kedua orang tua kami, padahal itu baru secuil bakti kami, itupun kami sudah merasa puas melayani mereka..
Adakah kami layak jadi ummat dari Nabi seagung engkau dan beroleh syafaa’atmu?
Ya ALLAH..
Ya Rob..
Ya Karim..
Ya Arhamarrohimiin.. limpahkan shalawat kepada Sayyidina wa Habibina wa Syafi’ina wa Qurratu A’yunina wa Maulana Muhammadï·º.. Sampaikan salam kami padanya dan atas semua sahabat dan keluarganya..
Jadikan kami bersama-sama dengan mereka.
Aamiin..Ya Robbal ‘Alamin

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.